CINTA YANG SALAH
Namaku Cinta. Aku masih kelas X di SMKN terfavorit di daerahku. Aku
anak tunggal dari keluarga yang mampu. Namun, orangtuaku tidak peduli
dengan keberadaanku. Mereka terlalu sibuk dengan hal ini dan itu. Mereka
membelikan dan memenuhi apapun yang aku minta. Mereka membayar
kebahagiaanku dengan uang. Padahal selama ini yang aku mau hanyalah
kasih sayang mereka, perhatian mereka dan hidup sederhana. Tapi mereka
tak akan pernah mengerti dan tak akan mau mengerti. Biarlah.
Di sekolah aku dikenal sebagai cewek yang sederhana, pintar dan
cantik. Aku tak pernah menyombongkan diri dengan predikat itu karena aku
tahu sombong hanya menambah dosa. Aku mengerti sedikit-sedikit tentang
agama. Maka dari itu aku memilih sekolah yang mewajibkan muridnya
berkerudung setiap hari seperti sekolahku ini. aku berharap ilmu
keagamaanku bertambah dan imanku semakin kuat.
Pada suatu pagi, aku melihat lelaki dengan seragam yang sama sedang
mengotak-atik motornya di pinggir jalan. Dia terlihat panik.
Kelihatannya dia sedang ada masalah dengan motornya. Aku sangat
penasaran dan mencoba mendekatinya.
“motornya kenapa?” tanyaku sedikit basa-basi.
“Oh.. ini, mogok lagi” ucapnya sambil tetap fokus dengan motornya. Lalu
menghadap ke arahku. Jantungku berdesir ketika sekilas melihat wajahnya
yang oriental. Ternyata ia adalah kakak kelas terkeren di sekolahku.
Namanya kak Riski. Dulu dia juga satu SMP denganku. aku sudah mengetahui
namanya sejak lama.
“kak sudah hampir jam 7 lho.. lebih baik kakak bareng saja sama aku.
motornya titipkan saja sama warga sekitar. Takutnya terlambat.” aku
menawarkan bantuan kepadannya. Tanpa fikir panjang ia mengiakan
bantuanku. Kami berangkat sekolah bareng. Dia memboncengku.
Di perjalanan kami mencoba untuk akrab. Ternyata kak Riski tak
seperti yang aku bayangkan selama ini. sepanjang perjalanan dia banyak
bercerita tentang ini dan itu kepadaku.
Sesampainya di sekolah. Seluruh mata memandang aku dan kak Riski.
Namun kak Riski tetap tenang memarkirkan motorku di tempat parkir.
“Ciee Riski, gebetan baru ya…” celetuk kak Bima. Aku hanya diam. Tanpa
menghiraukan kak Riski menghampiriku. Dan kami berpisah karena kelas
kita berbeda. Begitulah awal diri semuannya.
Aku dan kak Riski semakin dekat, kami selalu chattingan setiap malam,
jalan bareng, sekolah bareng dan sering menghabiskan waktu bersama. Aku
tak pernah tahu kalau kak Riski sudah punya pacar. Aku baru saja
mengetahuinya. Saat aku hendak ke kamar mandi. Aku melihat kak Riski dan
kak Diva sedang bertengkar hebat. Kak Diva adalah senior yang sangat
baik kepadaku bahkan ia telah menganggap aku sebagai adikknya, semenjak
aku dekat dengan kak Riski, kak Diva menghilang begitu saja. Aku tak
tahu kemana kak Diva pergi begitu saja. Mungkin kak Diva sengaja
menghindariku. Aku merubah haluan, dan akan berlalu dari tempat
persembunyianku. Tiba-tiba aku mendengar kak Riski mengucapkan kata
putus kepada kak Diva. Aku tak tahu apa masalahnnya.
Malam harinya kak Riski menelfonku. Mengajakku ke taman kota. Aku
mengiakan ajakan kak Riski. Kami berjalan menelusuri indahnnya
pemandangan berselimut hembusan angin malam nan dingin. Tiba-tiba kak
Riski menggenggam tanganku. Awalnya aku menganggapnya biasa saja. Saat
ia berdiri di hadapanku tiba-tiba dadaku berdesir. Tatapan tajam mata
elangnya membuatku merinding. Lalu dengan nada yang sangat lembut ia
berucap.
“Cinta, aku ingin bilang sesuatu kepadamu..” aku tak begitu penasaran
dengan apa yang akan kak Riski katakan kepadaku, tiba-tiba ia berlutut
di hadapanku dengan begitu romantisnya. Jantungku berdetak tak berirama
lagi. Aku resah.
“entah kapan rasa ini tiba-tiba datang.. saat ku sadari ternyata rasa
ini adalah rasa sayang untukmu.. aku mencintaimu… aku ingin menjadi
kekasihmu..” matannya berbicara seolah-olah aku harus menjawab sesuatu.
Namun bibirku seperti dibungkam dengan bantal. Aku tak mampu berkata
apa-apa. otakku mencoba mencari jawaban yang tepat untuk kak Riski.
Setelah sekian lama aku mematung tiba-tiba kakiku lemas dan ikut
berlutut.
“terimakasih kakak sudah menyayangiku. Tapi kak, sebenarnya aku sudah
punya kekasih dan aku selama ini hanya menganggap kak Riski tak lebih
dari seorang kakak.. maaf kak, aku nggak bisa.” Inilah jawaban hati dan
otakku yang sebenarnya. Bibirku dengan sukses mengeluarkan kata-kata
yang pas. Kulihat wajah tampan kak Riski menjadi layu. Dia mencoba
menerima jawabannku dan sepanjang perjalanan pulang ia tak mengatakan
apa-apa. kami hanya dia dan diam.
Keesokan paginya, aku menceritakan kepada Nanda tentang tragedi tadi malam. Mata Nanda melotot tajam ke arahku.
“Kamu sinting apa Cinta? Kamu bodoh amat.. benar-benar bodoh.. kamu
sadar tidak yang kamu tolak itu siapa?” Nadannya membentak, ekspresi
teman sebangku ku selalu begitu.
“Tentu saja aku sadar, hatiku sudah ada yang ngisi dan kurasa Faisal
dengan kak Riski 12:12 so, sama saja pilih Faisal atau kak Riski.
Hahahaha… Lagipula aku nggak akan berpindah hati ..” tawaku geli dengan
perkataanku sendiri. Dan mulai saat itu kak Riski sepertinya menjauhiku.
Laki-laki kadang aneh jika patah hati. Lagi-lagi aku tak puduli. Kak
Riski telah memilih cinta yang salah.
TAMAT
Cerpen Karangan: Rina Dwi
NAMA: Rina dwi
swkolah: SMPN 1 GAMBIRAN