Rabu, 28 Januari 2015

CINTA YANG SALAH 


Namaku Cinta. Aku masih kelas X di SMKN terfavorit di daerahku. Aku anak tunggal dari keluarga yang mampu. Namun, orangtuaku tidak peduli dengan keberadaanku. Mereka terlalu sibuk dengan hal ini dan itu. Mereka membelikan dan memenuhi apapun yang aku minta. Mereka membayar kebahagiaanku dengan uang. Padahal selama ini yang aku mau hanyalah kasih sayang mereka, perhatian mereka dan hidup sederhana. Tapi mereka tak akan pernah mengerti dan tak akan mau mengerti. Biarlah.
Di sekolah aku dikenal sebagai cewek yang sederhana, pintar dan cantik. Aku tak pernah menyombongkan diri dengan predikat itu karena aku tahu sombong hanya menambah dosa. Aku mengerti sedikit-sedikit tentang agama. Maka dari itu aku memilih sekolah yang mewajibkan muridnya berkerudung setiap hari seperti sekolahku ini. aku berharap ilmu keagamaanku bertambah dan imanku semakin kuat.
Pada suatu pagi, aku melihat lelaki dengan seragam yang sama sedang mengotak-atik motornya di pinggir jalan. Dia terlihat panik. Kelihatannya dia sedang ada masalah dengan motornya. Aku sangat penasaran dan mencoba mendekatinya.
“motornya kenapa?” tanyaku sedikit basa-basi.
“Oh.. ini, mogok lagi” ucapnya sambil tetap fokus dengan motornya. Lalu menghadap ke arahku. Jantungku berdesir ketika sekilas melihat wajahnya yang oriental. Ternyata ia adalah kakak kelas terkeren di sekolahku. Namanya kak Riski. Dulu dia juga satu SMP denganku. aku sudah mengetahui namanya sejak lama.
“kak sudah hampir jam 7 lho.. lebih baik kakak bareng saja sama aku. motornya titipkan saja sama warga sekitar. Takutnya terlambat.” aku menawarkan bantuan kepadannya. Tanpa fikir panjang ia mengiakan bantuanku. Kami berangkat sekolah bareng. Dia memboncengku.

Di perjalanan kami mencoba untuk akrab. Ternyata kak Riski tak seperti yang aku bayangkan selama ini. sepanjang perjalanan dia banyak bercerita tentang ini dan itu kepadaku.
Sesampainya di sekolah. Seluruh mata memandang aku dan kak Riski. Namun kak Riski tetap tenang memarkirkan motorku di tempat parkir.
“Ciee Riski, gebetan baru ya…” celetuk kak Bima. Aku hanya diam. Tanpa menghiraukan kak Riski menghampiriku. Dan kami berpisah karena kelas kita berbeda. Begitulah awal diri semuannya.

Aku dan kak Riski semakin dekat, kami selalu chattingan setiap malam, jalan bareng, sekolah bareng dan sering menghabiskan waktu bersama. Aku tak pernah tahu kalau kak Riski sudah punya pacar. Aku baru saja mengetahuinya. Saat aku hendak ke kamar mandi. Aku melihat kak Riski dan kak Diva sedang bertengkar hebat. Kak Diva adalah senior yang sangat baik kepadaku bahkan ia telah menganggap aku sebagai adikknya, semenjak aku dekat dengan kak Riski, kak Diva menghilang begitu saja. Aku tak tahu kemana kak Diva pergi begitu saja. Mungkin kak Diva sengaja menghindariku. Aku merubah haluan, dan akan berlalu dari tempat persembunyianku. Tiba-tiba aku mendengar kak Riski mengucapkan kata putus kepada kak Diva. Aku tak tahu apa masalahnnya.
Malam harinya kak Riski menelfonku. Mengajakku ke taman kota. Aku mengiakan ajakan kak Riski. Kami berjalan menelusuri indahnnya pemandangan berselimut hembusan angin malam nan dingin. Tiba-tiba kak Riski menggenggam tanganku. Awalnya aku menganggapnya biasa saja. Saat ia berdiri di hadapanku tiba-tiba dadaku berdesir. Tatapan tajam mata elangnya membuatku merinding. Lalu dengan nada yang sangat lembut ia berucap.
“Cinta, aku ingin bilang sesuatu kepadamu..” aku tak begitu penasaran dengan apa yang akan kak Riski katakan kepadaku, tiba-tiba ia berlutut di hadapanku dengan begitu romantisnya. Jantungku berdetak tak berirama lagi. Aku resah.
“entah kapan rasa ini tiba-tiba datang.. saat ku sadari ternyata rasa ini adalah rasa sayang untukmu.. aku mencintaimu… aku ingin menjadi kekasihmu..” matannya berbicara seolah-olah aku harus menjawab sesuatu. Namun bibirku seperti dibungkam dengan bantal. Aku tak mampu berkata apa-apa. otakku mencoba mencari jawaban yang tepat untuk kak Riski. Setelah sekian lama aku mematung tiba-tiba kakiku lemas dan ikut berlutut.
“terimakasih kakak sudah menyayangiku. Tapi kak, sebenarnya aku sudah punya kekasih dan aku selama ini hanya menganggap kak Riski tak lebih dari seorang kakak.. maaf kak, aku nggak bisa.” Inilah jawaban hati dan otakku yang sebenarnya. Bibirku dengan sukses mengeluarkan kata-kata yang pas. Kulihat wajah tampan kak Riski menjadi layu. Dia mencoba menerima jawabannku dan sepanjang perjalanan pulang ia tak mengatakan apa-apa. kami hanya dia dan diam.

Keesokan paginya, aku menceritakan kepada Nanda tentang tragedi tadi malam. Mata Nanda melotot tajam ke arahku.
“Kamu sinting apa Cinta? Kamu bodoh amat.. benar-benar bodoh.. kamu sadar tidak yang kamu tolak itu siapa?” Nadannya membentak, ekspresi teman sebangku ku selalu begitu.
“Tentu saja aku sadar, hatiku sudah ada yang ngisi dan kurasa Faisal dengan kak Riski 12:12 so, sama saja pilih Faisal atau kak Riski. Hahahaha… Lagipula aku nggak akan berpindah hati ..” tawaku geli dengan perkataanku sendiri. Dan mulai saat itu kak Riski sepertinya menjauhiku. Laki-laki kadang aneh jika patah hati. Lagi-lagi aku tak puduli. Kak Riski telah memilih cinta yang salah.

TAMAT
Cerpen Karangan: Rina Dwi
NAMA: Rina dwi
swkolah: SMPN 1 GAMBIRAN